Horaaayy, tulisan tentang film lagi! Kali ini, kita akan membahas tentang film-film yang punya cara bercerita tidak urut atau di sini kita akan sebut alur non linear. Mengapa membahas tentang film-film seperti ini? Karena kemarin saya sudah menulis tentang film-film yang mengacak-acak waktu. Kemudian, saya jadi kepikiran kalau ada film-film lain yang punya waktu yang berjalan normal, punya awal dan akhir, tapi alurnya tidak dikisahkan seperti ini. Jadi lebih menyangkut teknik story telling dibandingkan ide ceritanya sendiri.
Kira-kira bisa dipahami ya? Kalau masih bingung, intinya adegan-adegan, peristiwa-peristiwa, atau momen-momen di film ditampilkan tidak berurutan. Bisa saja yang awal ada di akhir film, yang akhir ada di awal film, yang tengah-tengah entah ada ada di mana, dan seterusnya. Maka biasanya akan ada kesan 'lompat-lompat' dari satu momen ke momen yang lain. Bisa berupa flashback atau memang film punya bagian-bagian terpisah yang dibuat secara jelas.
Syarat? Okey, ada setidaknya tiga syarat sebagai pertimbangan saya dalam menyusun daftar kali ini. Pertama, film tersebut tidak 'mengacak-acak waktu', alias punya waktu yang berjalan normal. Kalau yang ini 'kan sudah ada daftarnya sendiri. Lagi pula, konsep story telling non linear menurut saya tidak bisa dilakukan jika latar waktu di film tidak linear. Syarat yang lain adalah alur atau plot cerita di film hanya ada satu, tidak berupa multiverse seperti di film-film Marvel belakangan ini. Syarat terakhir yaitu konsep non linear di film harus signifikan. Misalnya jumlah 'ketidakurutan' yang ada cukup banyak dan terasa, atau terjadinya loncatan momen itu sangat mempengaruhi proses bercerita di film.
Oh iya, mungkin kita perlu menyadari sesuatu tentang daftar-daftar film di blog ini. Jadi, saya buat daftar-daftar ini bebas saja karena iseng, hehehe. Saya berusaha memberi tahu orang-orang tentang apa yang ada di pikiran saya. Bisa saja daftar-daftarnya kurang bagus, atau ada film yang tidak sesuai dengan topik yang sebenarnya. Intinya memang sesuka saya sih.
Seiring waktu, saya juga berusaha memperbaiki tulisan-tulisan saya. Mengapa? Karena menulis itu menyenangkan dan menrepotkan di saat yang bersamaan. Saya merasa senang saat saya menulis, terutama tulisan-tulisan yang saya terbitkan di blog ini. Karena itu, saya akan berusaha membuat hal yang menyenangkan tersebut lebih bermakna lagi buat saya. Bagitu juga, menulis itu merepotkan, perlu berpikir, riset, meluangkan waktu khusus, juga mengatur kondisi-situasi yang pas. Karena itu saya mencoba mendapat kemakluman jika tulisan-tulisan saya sekarang ini kurang bagus.
Selalu ada kemungkinan saya akan menulis lagi daftar-daftar yang sama jika di kemudian hari saya menemukan film-film yang ternyata juga cocok untuk masuk daftar. Mungkin akan ada part 2 dan part 3 dari daftar film ini, begitu juga yang lain.
Namun untuk sementara, kita coba bahas 6 film yang punya alur non linear versi blog Naftena. Berikut ini film-filmnya.
Memento (2000)
Mari kita memulai daftar dengan film dari salah satu sutradara paling favorit saya, Mr. Christopher Nolan. Memento, film yang saya tonton kalau tidak salah saat saya SMA. Waktu itu, alasan saya menonton memang karena sutradaranya. Saya sedang berusaha menghabiskan semua film yang dibuat sang sutradara yang baru naik daun tersebut.
Lanjut, jadi film ini tentang apa sih? Intinya, Leonard Shelby (Guy Pearce) berusaha mencari pembunuh istrinya. Namun, ia punya masalah ingatan. Ia tidak bisa membangun ingatan baru, atau yang bisa kita sebut sebagai short term memory loss. Alhasil, ia hanya ingat sampai satu titik hidupnya, tapi setelah itu ia tidak bisa mengingat hal baru. Ia lakukan berbagai cara untuk mengatasinya, mulai dari menulis catatan, mengambil gambar di setiap momen, hingga mentato seluruh tubuhnya dengan petunjuk-petunjuk.
Memento (sumber: IMDb)
Lalu apanya yang non linear? Seluruh film adalah non linear! Film ini dapat dibagi menjadi dua bagian, yang oleh editornya ditandai dengan mode warna. Keduanya bersisi potongan-potongan kejadian yang kemudian di susun selang-seling bergantian. Bagian pertama yang punya warna disusun secara mundur, jadi adegan paling akhir malah di awal lalu diikuti adegan-adegan sebelumnya. Bagian kedua yang hitam-putih disusun urut awal ke akhir. Jadi, ending film ini adalah saat keduanya nanti bertemu di tengah-tengah.
Gila ya? Ada orang yang kepikiran buat film seperti ini. Memang Mr. Nolan tidak membuat kecewa. Film ini menurut saya memang bukan untuk semua orang. Cara bercerita yang tidak urut ini membuat pusing. Saya sendiri menontonnya dengan tidak ambil pusing. Jadi ya tonton saja tidak usah sampai paham, hehehe. Bagaimanapun, cara berceritanya ini sangat khas dan memberi penonton sesuatu yang sangat sesuai dengan ide ceritanya: apa yang dirasakan orang dengan short term memory loss. Bagian yang berjalan mundur akan membuat kita berada di suatu situasi yang kita tidak tahu asalnya dari mana. Tiba-tiba Leonard ada di toilet, apa yang ia lakukan? Tiba-tiba ia berlari-lari, mengapa harus lari? Apakah ia dikejar, atau malah mengejar? Namun, tidak seperti Leonard, penonton akhirnya tetap tahu apa yang terjadi melalui adegan selanjutnya.
Film yang netral bagi saya, tidak saya suka maupun benci. Rekomen? Mungkin perlu lihat-lihat dulu orang yang akan kita beri saran. Akhirnya yang bisa saya katakan yakni, 'Tertarik untuk pusing? Silakan tonton film ini!', hehehe.
The Prestige (2006)
Kita beralih dari satu film Mr. Nolan ke film Mr. Nolan yang lain. The Prestige, adalah film yang entah mengapa tidak seterkenal film-film lain dari sutradara yang sama, padahal menurut saya ini film bagus. Ceritanya bagus, gambarnya juga bagus, apalagi pemain-pemainnya lumayan top. Mungkin pada masanya sang sutradara beserta para aktornya tidak seterkenal sekarang. Bagaimanapun, di sini kita coba fokus ke sisi cerita dan cara berceritanya saja.
Film dimulai dengan adegan tewasnya seorang pesulap ternama bernama Angier (Hugh Jackman, benar sekali, pemain Wolverine) di tengah pentas sulapnya. Tersangka utama yang dituduh bertanggung jawab adalah Border (Christian Bale, Batman-nya The Dark Knight Trilogy) pesulap lain yang berada di TKP. Namun, ia tidak terlihat melakukan apa-apa. Ia hanya menyaksikan saat Angier tiba-tiba masuk dan tenggelam dalam kotak kaca penuh air. Jadi apakah yang sebenarnya terjadi? Film lalu berlanjut dengan flashback, mulai dari sisi Angier dengan buku diarinya yang dibaca Borden. Lalu flashback berlanjut dengan sudut pandang Borden melalui buku diarinya yang dibaca Angier. Mereka saling bercerita tentang perjalanan mereka untuk menjadi pesulap kenamaan, persaingan mereka yang dipicu dendam dan ego, hingga berusaha membuktikan siapa yang paling menawan dalam membawakan trik-trik sulap.
The Prestige (sumber: IMDb)
Okey, dari penjelasan di atas, terlihat 'kan di mana letak non linearnya? Kalau saya boleh menganalisa, film ini punya tiga bagian. Bagian ini berada di satu garis waktu atau timeline yang sama, hanya saja punya starting point yang berbeda. Pertama yang menjadi prologue sebenarnya merupakan starting point paling akhir dalam timeline. Saat di mana Angier tewas berlanjut dengan Borden dipenjara dan nasib trik serta peralatan sulap yang mereka miliki masing-masing. Yang kedua adalah real starting point, titik paling awal dari timeline yang sebenarnya. Bagian ini dimulai dari Angier dan Borden yang bekerja bersama sebagai penonton bayaran seorang pesulap, awal dendam antara keduanya muncul, dan perjalanan mereka masing-masing dalam menjadi pesulap yang mereka impikan. Yang ketiga kita sebut saja starting point tambahan. Bagian ini adalah bagian yang menceritakan perjalanan Angier untuk mencari alat canggih untuk bisa meniru trik sulap terkenal milik Borden.
Sangat tidak linear 'kan ceritanya? Btw, teknik cerita ini lumayan cocok dengan cerita. Saya merasa awal yang sangat aneh dan menggantung membuat penonton penasaran dengan ceritanya. Lalu, dua sudut pandang yang dimiliki film bisa disampaikan dengan baik melalui adegan-adegan yang tidak disusun secara urut. Misalnya suatu adegan membahas sesuatu, maka diikuti dengan adegan lain dari waktu lain yang juga membahas hal serupa. Kedua tokoh jadi terasa sama-sama penting. Kekurangan yang saya rasakan hanya berupa rasa bosan di awal. Karena di sini ada dua tokoh utama, maka ada dua cerita latar belakang. Nah, rasanya cukup banyak yang perlu diceritakan yang tidak terlalu berkaitan dengan adegan prologue misterius. Padahal adegan tersebut jadi semacam pusat rasa penasaran kita saat menonton. Ya, tapi akhirnya semuanya jadi penting sih.
Saya merasa film ini bagus, saya suka film ini. Kalau ada kesempatan, mungkn kalian mau menonton?
Reservoir Dogs (1992)
Beralih dari sutradara favorit saya ke sutradara favorit banyak orang. Reservoir Dogs adalah film buatan Quentin Tarantino. Film ini sendiri lebih tua dari saya. Coba kita hitung, film ini berarti sudah berusia lebih dari 30 tahun ya? Hmmm, hebat juga.
Shot angle khas Quentin Tarantino di Reservoir Dogs (sumber: IMDb)
Bercerita tentang tindak perampokan yang dilakukan 6 orang kriminal tapi sayangnya berjalan kacau. Ada yang tewas, ada yang sekarat, ada yang hilang, dan sisanya bingung harus apa. Lalu timbul kecurigaan, pasti ada imposter di antara mereka, yang sengaja menjebak mereka dengan memanfaatkan kesempatan ini. Apa benar ada penyusup? Lalu apa yang harus mereka lakukan agar selamat dari situasi ini?
Di atas saya tulis tindak perampokan, tapi adegan perampokannya sendiri tidak ada dalam film! Aneh ya, hehehe. Jadi film hanya memperlihatkan sebelum dan setelah terjadinya perampokan. Lalu ia bercerita melalui dialog para tokohnya. Nah, di sini penonton akan digiring untuk penasaran tentang apa yang sebenarnya terjadi, dan dipersilakan membayangkan sendiri. Lalu film akan memberi potongan-potongan kejadian yang terjadi di masa lalu yang menceritakan latar belakang bagaimana masing-masing anggota bisa masuk dalam proyek ini. Inilah yang menurut saya bisa dikatakan non linear.
Jujur saat saya menyusun daftar ini, saya sangat bingung. Saya ragu apakah film ini bisa masuk atau tidak. Namun akhirnya saya memutuskan untuk memasukkannya. Alasannya, karena adegan-adegan flashback-nya cukup banyak. Juga ada satu bagian flashback yang cukup panjang dan sangat signifikan dalam ceritanya. Yah, tapi itu menurut saya. Bagaimana dengan kalian? Apakah kalian setuju?
(500) Days of Summer (2009)
Beralih lagi nih, dari film misteri-thriller ke film romance. (500) Days of Summer adalah film yang sangat populer di kalangan teman-teman SMA saya dulu. Mereka yang suka film, pasti tahu film ini. Saya sendiri menontonnya di kosan dulu dengan teman-teman, yang perlu diperjelas bahwa mereka cowok. Jadinya saya mereasa kurang 'kena' film ini. Namun, setelah waktu berlalu, kepikiran dan kepikiran, eh kok rasa-rasanya bagus ya? Anyway, ini tulisan bukan membicarakan tentang bagus tidaknya film, tapi tentang teknik story telling. Maka kita mulai bahas dari ceritanya.
Suatu hari, Tom harus menerima kenyataan bahwa Summer, orang yang ia cintai, tidak bisa menjalani hubungan asmara dengannya. Ia patah hati dan terpukul atas apa yang ia alami. Dari sana, film lalu beralih ke kisah selengkapnya yang terjadi di antara mereka. Bagaimana awal Tom bertemu dengan Summer, mulai merasa bahwa ia adalah yang ditakdirkan untuknya, juga waktu-waktu saat mereka bersama. Namun, ada juga waktu-waktu saat Tom sendirian dan patah hati. Semua itu terjadi dalam hari-hari yang bernomor, melompat dari satu hari ke hari yang lain, hingga akhirnya kita mendapat tepat 500 hari.
Elevator scene yang (menurut saya) iconic di film (500) Days of Summer (sumber: IMDb)
Yah, sudah terlihat bagaimana film ini tidak linear? Lompat-lompatnya itu benar-benar lompat-lompat! Saya jujur sedikit lupa dengan film ini (pertanda ini waktu yang tepat untuk rewatch) karena sudah cukup lama saya menontonnya. Kira-kira gambarannya yaitu lompat dari adegan bermesraan ke adegan sendirian yang kesepian, adegan nonton film berdua ke adegan nonton film sendirian, ya seperti itulah. Nah, itulah kegunaan non linear dalam film ini. Menurut saya, film ini menyusun adegan-adegan sedemikan hingga momen-momen sejenis dengan status berbeda ada berdekatan. Sehingga terlihat ironinya. Saat bersama terasa menyenangkan, sedang saat sendirian benar-benar menyakitkan. Kita sebagai penonton bisa merasa simpati terhadap Tom. Bisa relate 'lah. Terasa up and down.
Mungkin sedikit membahas di luar masalah linearitas. Film ini juga unik di bagian akhir yang terasa membukakan mata. Sulit juga dijelaskan tanpa spoiler. Intinya, di akhir, apa yang kita pikir jahat dan buruk itu bisa saja tidak jahat dan buruk, sedangkan apa yang kita pikir baik dan indah itu mungkin hanya ada di pikiran kita saja. Apakah itu berhubungan dengan jalan berceritanya yang tidak linear? Bisa jadi.
Eternal Sunshine of the Spotless Mind (2004)
Film ini adalah salah satu film paling saya sukai! Hehehe. Eternal Sunshine of the Spotless Mind merupakan film science-fiction tapi romance. Saya dulu tertarik dengan film ini karena film ini punya rating tinggi di Internet Movie Database (IMDb). Kemudian yang main adalah Jim Carrey. Bagaimana mungkin pemain Ace Ventura dan The Mask bisa main film romantis? Tidak hanya itu, ternyata filmnya pun juga serius, yang membuat saya merasa mind blown waktu menontonnya. Mind blown yang positif sih.
Lagi-lagi, film ini bercerita tentang patah hati. Joel (Jim Carrey) baru saja putus dengan kekasihnya Clementine (Kate Winslet, yang main Rose di Titanic). Ia memutuskan untuk menggunakan jasa penghilang ingatan agar dirinya bisa berhenti bersedih. Prosedur pun dijalankan. Malam harinya, ia dipasangi alat-alat. Proses tersebut dilakukan saat ia tidur. Ternyata, memori terwujud dalam mimpi-mimpinya, dan di sana ia melihat Clementine yang mulai hilang dari ingatannya yang indah.
Salah satu ingatan berwujud mimpi di film Eternal Sunshine of the Spotless Mind (sumber: IMDb)
Mungkin memang tidak terasa terlalu non linear ya? Sekalipun yang ada hanya kilasan-kilasan memori yang silih berganti mewujudkan mimpi, tapi menurut saya film ini tetap non linear. Jadi percayalah pada saya! Hehehe.
Bicara tentang mimpi-mimpi sendiri, menurut saya hal ini merupakan kekuatan utama dalam film ini. Cara mereka menggambarkan mimpi sangat nyata, atau bagaimana ya menjelaskannya, sangat mimpi. Film memperlihatkan adegan-adegan yang memang seperti mimpi yang kita biasa alami. Ada satu peristiwa diikuti peristiwa selanjutnya yang tidak ada kaitannya sama sekali. Lalu gambaran-gambaran kabur, atau kejadian-kejadian tidak masuk akal, benar-benar bagus menurut saya. Selain itu, adegan-adegan tersebut terlihat sangat indah. Mungkin film ini adalah film paling indah yang pernah saya tonton.
Kalau ceritanya, menurut saya bagus juga. Ada pesan yang dalam yang disampaikan dalam film ini. Sekalipun menurut saya ending-nya kurang jelas. Tidak menggantung sih, cuma membingungkan. Maksudnya apa sih sebenarnya? Mungkin di sini ada yang bisa membantu? (semoga tidak ada yang sadar kalau saya tidak banyak membahas non linearnya film ini)
Mr. Holmes (2015)
Untuk yang terakhir, saya ingin membahas film yang ada misterinya dan ada dramanya juga. Saya sendiri tidak tahu ini film jenis apa, apakah film bioskop, film TV, atau film yang disiarkan di on-demand. Yang mengeluarkan adalah BBC, jadi mungkin film TV.
Mr. Holmes bercerita tentang tokoh favorit jutaan orang, Sherlock Holmes, yang sudah tua dan pensiun. Ia tinggal di sebuah rumah kecil di dekat pantai, berternak lebah, dan mempekerjakan pembantu yang tinggal bersama anak laki-laki semata wayangnya. Ia dihadapkan pada ingatannya yang semakin memburuk. Ia berusaha berbagai cara untuk memperbaiki ingatannya. Itulah sebabnya ia beternak lebah untuk royal jelinya, juga bepergian ke Jepang untuk medapat tumbuhan obat. Ia berusaha keras karena ingin menuliskan kasus terakhir yang ia tangani. Kasus tentang seorang istri yang berperilaku aneh karena kehilangan anaknya di kandungan sampai dua kali. Ada apa sebenarnya di balik kasus tersebut? Apakah ia berhasil mengingatnya kembali? (ya harusnya berhasil sih, kalau tidak ya tidak jadi film donk, hehehe)
Mr. Holmes (sumber: IMDb)
Okey, di mananya yang tidak linear? Well, bisa saya katakan ada dua bagian utama dalam ceritanya. Bagian pertama adalah masa sekarang saat ia hidup bersama pembantu dan anaknya tersebut. Sedangkan bagian kedua adalah cerita kasus terakhir yang coba ia tuliskan. Namun, ada satu yang unik. Selain dua bagian tersebut, sebenarnya ada flashback yang terjadi di bagian masa sekarang. Flashback itu menceritakan perjalanannya ke Jepang, yang ternyata penting karena akhirnya menuntun pada kisah lain beberapa waktu sebelumnya.
Menurut saya, susunan cerita film ini unik, menarik, dan sesuai dengan apa yang ingin disampaikannya. Dua bagian beserta satu flashback ini nantinya akan memberikan kepentingannya masing-masing dalam film. Drama, film ini berunsur drama, jadi seiring berjalannya film, maka tokoh-tokohnya akan semakin terlihat oleh penonton. Mereka juga akan mengalami realisasi dari apa yang terjadi dulu maupun sekarang. Jadi kita bisa melihat mereka berubah dan berkembang.
Daftar Harapan
Baiklah, kita masuk ke Daftar Harapan, terjemahan saya untuk honorable mentions. Daftar ini sebenarnya hanya memuat beberapa film yang tidak bisa masuk ke daftar di atas, hanya saja cukup menarik untuk dibahas. Atau bisa juga film-film yang menurut saya tidak bisa dibahas karena ada spoiler. Jadi, bisa saja bagian ini dilewati saja.
Okey yang pertama adalah Comet (2014). Film ini bercerita tentang beberapa alternate universe yang anehnya bisa menyusun tahap-tahap cerita dua manusia dalam menjalani hubungan. Film ini akan meloncat-loncat antar universe, tanpa ada urutan yang pasti. Terlihat bahwa sebenarnya gaya cerita dimaksudkan untuk non linear, sedangkan multiverse-nya itu hanya kedok belaka. Siapa yang setuju dengan saya? Ya, itulah alasan utama saya tidak memasukkannya dalam daftar, dan itu pulalah awal saya punya ide untuk menajadikan alur tunggal sebagai syarat. Selain hal tersebut, alasan lain adalah saya merasa film ini kurang rekomen. Memang bagus tidaknya film (atau suka tidaknya saya dengan film) bukan syarat dalam daftar ini, tapi saya merasa agak kurang enak juga membahas film yang saya sendiri tidak terlalu melihat istimewanya.
Comet (sumber: IMDb)
Film selanjutnya adalah Arrival (2016). Film ini tidak masuk dalam daftar karena spoiler. Jika kita bahasa alurnya yang tidak linear, maka ya jadi membongkar banyak ceritanya. Namun bagi yang tetap ingin membaca, maka beginilah pembahasan kita. Film ini bercerita tentang datangnya alien ke bumi. Manusia lalu berusaha berkomunikasi dengan mereka, hingga membentuk tim para pakar di bidangnya. Beberapa di antaranya adalah ahli bahasa (diperankan Amy Adams) dan ahli fisika (diperankan Jeremy Renner). Mereka berusaha menerjemahkan simbol-simbol yang para alien buat di tengah rasa ngeri mereka karena harus berhadapan dengan makhluk yang belum pernah mereka temui sebelumnya. Jadi di mana spoiler-nya? Itu terjadi di awal film, mungkin bisa disebut prologue. Di bagian tersebut, kita melihat momen saat sang ahli bahasa kita ini kehilangan anak perempuannya karena sakit keras. Baru film berlanjut dengan masalah alien. Kalau saya bilang film ini tidak linear, maka orang yang akan menonton jadi curiga, sebenarnya setting waktu prologue itu ada di mana. Dan benar saja, memang sebenarnya prologue itu adalah twist dalam film ini. Sebenarnya momen kehilangan putri sang ahli bahasa terjadi di masa depan, bukan terjadi di masa lalu. Saya sendiri sebenarnya cukup bisa menebak jalan ceritanya (maaf ya kalau sombong, memang sengaja hehehe, sulit jadi saya, kurang ada yang bisa disombongkan sekarang), karena itu saya cukup yakin pembahasan tentang non linear akan membuat orang jadi lebih mudah menebak. Walau demikian, tetap saja film ini bercerita secara non linear, serta salah satu film bagus terbukti nominasi Oscar. Karena itu saya sebutkan saja di sini.
Film lain yang menurut saya juga cukup spoiler jika dibahas non linearnya adalah Pulp Fiction (1994). Film lain buatan Quentin Tarantino ini bercerita tentang kehidupan gengster, anak buahnya, dan petinju yang saling terhubung. Bisa dibilang, film ini kumpulan kejadian-kejadian unik yang dilalui masing-masing tokoh. Mulai dari perampokan para pemula di restoran, anak buah menemani pacar bos makan malam, menagih koper berisi barang misterius, si petinju yang kabur dari gengster karena merusak perjanjian, hingga menghadapi mayat di mobil yang tertembak tidak sengaja. Nah, tapi ada satu adegan tak terduga di akhir. Ternyata bagian prologue itu merupakan sebuah bagian cerita yang dibuat sedemikian hingga penonton melupakannya di akhir. Tidak seperti Arrival, saya berhasil dikelabuhi dan menjadi korban twist film ini. Bagian perampokan restoran itu benar-benar tidak disinggung sama sekali di sepanjang film hingga di akhir dimunculkan lagi karena bertemu dengan dua anak buah gengster yang jadi tokoh paling sering muncul. Nah, kalau saya dulu menonton tidak ngeh dengan teknik berceritanya. Saya tidak yakin sih, tapi sepertinya kalau dibahas non linearnya maka efek 'kaget' yang seharusnya ada di akhir itu jadi mungkin bisa tertebak. Saya mungkin salah, tapi saya tetap mejadikan ini alasan untuk memasukkan film ini dalam bagian Daftar Harapan.
Penutup
Sampailah kita pada penghujung tulisan ini. Saya berharap tulisan ini ada gunanya ya, hehehe. Semoga bisa menginspirasi play list kalian yang mungkin sedang cari-cari film untuk ditonton di akhir pekan. Kalau ada kritik, saran, dan ralat, silakan hubungi saya, atau bisa juga tinggalkan komentar di bawah. Sampai jumpa di tulisan selanjutnya, da da!