Million Dollar Baby dan Kal Ho Naa Ho
( Edited Image, source: IMDb )

Film yang Membuat Saya Menangis

18 Mei 2024, (terakhir diedit pada 18 Mei 2024)
132
2

Apakah kalian pernah menangis saat nonton film sedih? Atau malah para pembaca ini orang yang sengaja nyari-nyari film sedih biar bisa menangis, biar bisa meluapkan emosi yang ada dalam hati? Kalau iya, mungkin daftar film berikut akan menarik buat kalian. Kali ini saya ingin berbagi tentang film-film yang pernah membuat saya menangis.

Tunggu dulu, mungkin ada dari kalian yang meremehkan. "Nonton film kok nangis?" Hei hei, kalau kalian bukan orang yang sering nangis, ya sudah. Kalian harus paham di dunia ini manusia tidak seperti kalian semua. Orang itu beda-beda. Note: sebuah pembelaan, hehehe.

Bisa dibilang, dari kecil sampai sekarang, banyak film yang membuat saya menangis. Karena itu, syarat utama daftar kali ini adalah film tersebut harus memorable bagi saya. Artinya, harus berkesan cukup dalam hingga saya teringat-ingat sampai sekarang. Selain itu, filmnya memang harus sedih dan berhasil membuat sedih. Ada juga 'kan film yang niatnya sedih tapi ternyata tidak sedih-sedih amat? Lalu, film tersebut juga harus bisa direkomendasikan. Film yang lumayan bagus 'lah, setidaknya menurut saya.

Okey, inilah dia daftarnya!

Kal Ho Naa Ho (2003)

Film ini saya tempatkan di urutan pertama karena memang film inilah yang saya ingat paling pertama membuat saya menangis. Kalau tidak salah, saya menontonya sewaktu SD kelas 4 dan setelah itu beberapa kali menonton ulang. Padahal waktu itu, saya menontonnya di TV dan jam tayangnya malam-malam. Saya tidak menontonnya sampai selesai, tapi di suatu adegan saya merasa sudah tidak kuat dan tidur sambil basah air mata.

Film ini bercerita tentang Naina, orang India yang tinggal di New York bersama keluarganya. Semenjak ditinggal-meninggal oleh sang ayah, ia harus menghadapi berbagai permasalahan yang ada di keluarganya. Semuanya seketika berubah saat seorang Shah Rukh Khan, maaf maksud saya Aman, datang sebagai tetangga baru. Pertama kali melihat Naina, Aman langsung terpana dan sejak itu ia suka mencampuri urusannya. Aman memang punya gayanya sendiri yang sok tahu dan suka ikut campur, tapi justru dengan itu ia mampu membuat segi-segi kehidupan keluarga Naina menjadi lebih baik. Semakin lama, hati Naina yang keras melembut dan mulai terbuka pada Aman. Sayang, ia tidak tahu rahasia besar yang disembunyikan Aman dari semua orang....

Naina dan Aman dalam Kal Ho Naa Ho Kal Ho Naa Ho (sumber: IMDb)

Mengapa film ini sedih? Mungkin karena campuran antara komedi dan drama yang membuat penonton terbawa suasana. Awal-awal film yang jenaka membuat kita merasa santai, merasa ingin mengikuti ceritanya lebih dalam. Selain itu, mungkin juga karena drama musikal yang khas film India. Banyak orang bilang, musik di film merupakan komponen utama yang mengarahkan perasaan penonton. Kalau saya sih setuju-setuju saja. Lalu kalau bagi saya, sedihnya film juga karena kharakter Aman. Dia memang awalnya terlihat menyebalkan, tapi sama seperti Naina, kita akhirnya tetap jatuh cinta padanya. Kita teryakinkan bahwa hatinya itu tulus dan mulia. Kharakter yang sulit kita temui di dunia nyata.

Jadi, bagaimana? Saya yakin di TV sudah ratusan kali diputar. Apakah masih ada yang belum menonton? Sudah mulai mempertimbangkan? Memang panjang sih filmnya, tapi worth it kok. Aduh, jadi pingin nonton lagi!

Up (2009)

Film selanjutnya merupakan salah satu animasi Pixar. Up, adalah film yang tidak pernah gagal membuat saya meneteskan air mata. Berapa kalipun saya menontonnya, entah mengapa selalu saja membuat saya menangis. Pernah suatu hari baru bangun tidur siang. Eh di TV ada Up, langsung senut-senut hidung saya. Mungkin karena soundtrack-nya kali ya? Soundtrack di film ini memang ikonis sih.

Lebih lanjut, yang unik dari film ini yaitu adegan sedihnya sudah ada sejak awal. Mungkin ini satu-satunya film yang membuat penontonnya menangis di 10 menit pertama. Memang harus saya akui Pixar, betapapun kabar-kabar miring diberitakan darinya, merupakan salah satu produsen film animasi paling top.

Silakan tonton sendiri 10 menit pertama dari film itu ya. Hehehe. Saya akan bercerita setelahnya. Mr. Fredricksen adalah seorang kakek tua yang tinggal sendirian di tengah kota. Ia bekerja sebagai penjual balon di dekat kebun binatang. Suatu hari, ia diminta untuk pindah dari rumah kecilnya karena di daerah itu akan ada pembangunan. Merasa rumah itu adalah bagian dari hidupnya, ia memutuskan bertindak nekat. Dengan jutaan balon, ia menerbangkan rumahnya itu untuk pergi ke Paradise Fall, tempat idaman ia dan mendiang istrinya sejak dulu.

Tanpa disadari, seorang bocah menyelinap masuk ke rumahnya. Russell, anak pramuka berprestasi yang kurang satu tugas untuk mendapat penghargaan, berusaha membantu Mr. Fredicksen sebagai bagian dari pelayanan kepada orang lanjut usia. Di tengah perjalanan mereka yang tidak berjalan lancar, mereka terdampar dan bertemu dengan seekor spesies unggas ultra langka yang diburu oleh kawanan anjing.

Rumah Terbang di Film Up Up (sumber: IMDb)

Film ini adalah salah satu film favorit saya. Saya yakin ada pelajaran penting yang ingin disampaikan oleh pembuatnya. Menurut saya pelajaran itu seperti ini. Hidup itu kadang senang kadang sedih, tapi jangan sampai yang sedih itu membuat kita lupa yang senang. Karena itu bersyukurlah untuk setiap momen yang kita lalui. Kemudian, terus maju dan berjuang untuk mendapat kebahagiaan yang baru.

Radit dan Jani (2008)

Saya belum bisa menyebutkan film Indonesia dalam daftar-daftar film yang saya buat terdahulu. Namun akhirnya, saya bisa memuat film dari negeri kita tercinta dalam daftar saya ini. Radit & Jani adalah film yang saya tonton sewaktu saya SMA, dan sampai sekarang film ini adalah salah satu film out of the box yang saya sukai. Kesedihan dalam film ini dibuat dengan menggunakan jenis kehidupan yang tidak biasa kita temui dalam film, tapi anehnya sebenarnya sering kita temui sehari-hari.

Film ini mengikuti kehidupan (surprise-surprise) Radit dan Jani dalam perjalanan pernikahan mereka. Mereka adalah anak nakal yang percaya bahwa mereka bisa mendapat kebahagiaan dengan cara mereka sendiri. Mengutil di mini market, mencuri telpon yang tergeletak di meja warung, adalah sedikit dari kanakalan-kenakalan mereka sehari-hari. Mereka sendiri tidak punya pekerjaan tetap.

Kehidupan mereka menjadi sulit saat Jani positif hamil. Mereka berdua harus mulai menampar pipi mereka sendiri dan berusaha untuk menjadi manusia dewasa yang bertanggung jawab. Mampukah mereka mempertahankan cinta mereka, saat mereka masih terperangkap dengan sifat-sifat buruk yang mereka miliki? Mampukah mereka mewujudkan kebahagiaan versi mereka sendiri yang selalu mereka banggakan itu?

Radit dan Jani Radit dan Jani (sumber: Film Indonesia)

Yang membuat sedih dalam film ini adalah bagaimana ide ceritanya lumayan relate bagi kehidupan remaja atau yang baru saja dewasa. Sejenis 'ego yang terbentur realita'. Hanya saja, melalui studi kasus yang parah. Bisa juga karena tema filmnya yang memperlihatkan 'anak nakal'. Penonton jadi tidak sadar bahwa mereka dibawa ke sebuah film drama yang menguras emosi. Itu menurut saya sih, dan menurut saya lagi, film ini sedih banget. Nggak percaya? Kakak saya pernah bilang bahwa teman-temannya dulu pernah nonton bareng dan mereka pada nangis bombai juga. Jadi ya memang film ini punya cerita yang menyentuh.

Million Dollar Baby (2004)

Film selanjutnya merupakan film yang tidak asing di blog ini. Million Dollar Baby sudah pernah saya sebut di post lain. Mau bagaimana lagi, menurut saya film ini memang film bagus yang sangat berkesan. Kalau di post sebelumnya saya hanya menyebutkan apa yang saya suka darinya, kali ini saya juga akan memberi garis besar ceritanya. Namun, saya menyarankan kalian untuk berhenti membaca sampai di sini. Lebih baik tonton saja dulu, dan percaya pada saya bahwa film ini film bagus.

Million Dollar Baby Million Dollar Baby (sumber: IMDb)

Okey bagi yang tetap ingin membaca, terserah kalian saja sih. Bercerita tentang seorang perempuan yang ingin menjadi petinju profesional, ia lalu meminta seorang pelatih untuk melatihnya. Sang pelatih menolak dengan alasan ia tidak melatih wanita. Namun, si perempuan itu terus datang dan berlatih di sasana tinjunya. Pelatih itu kemudian luluh dan setuju untuk melatihnya. Lalu, dengan kegigihan dan keuletannya, si perempuan berhasil menjadi petinju yang hebat dan kuat. Semakin lama, partandingan semakin bergengsi dengan lawan yang semakin menakutkan. Apakah jalannya akan selalu mulus dan lancar?

Film yang saya tonton tahun lalu ini sebenarnya sulit untuk diceritakan karena hal yang manarik dan sedih darinya adalah plot twist yang ia miliki. Sinopsis yang saya buat tadi sudah saya pikirkan dengan hati-hati agar tidak memberi bocoran, tapi kalau sudah diberi tahu seperti ini, tetap saja rasanya seperti sudah kena spoiler. Selain itu, hal lain yang membuat sedih yaitu ceritanya yang dark. Detail-detail di film ini sendiri juga kadang sedikit halu. Ada adegan-adegan yang tidak nalar yang tidak mungkin terjadi di kenyataan. Namun, saya membicarakan hal ini sebagai nilai negatif sekaligus nilai positif. Sebab, justru adegan-adegan itu yang menampilkan momen menyentuh.

Jadi, akhirnya yang mungkin bisa saya sampaikan adalah, siapkan mental kalian saja saat akan menonton film ini. Hehehe. Ada yang setuju?

Toy Story 3 (2010)

Satu lagi film animasi dan lagi-lagi dari Pixar. Mungkin rumah produksi ini satu-satunya yang berani membuat film-film animasi yang 'temanya berat' dan diceritakan dengan lebih serius. Toy Story 3 juga menggunakan konsep tersebut. Film ini mengangkat tema waktu yang berjalan dan mengubah segalanya, hingga menghasilkan perjumpaan dan perpisahan.

Masih melanjutkan Toy Story 2, film yang kalau tidak salah saya tonton sewaktu SMA ini mempertahankan persoalan 'apa jadinya jika anak si pemilik mainan sudah tidak anak-anak lagi'. Toy Story 3 tiba saat Andy sudah hampir dewasa. Ia kini sudah besar dan sebentar lagi akan pindah rumah dan belajar di kampus. Jadinya, Andy tidak pernah bersenang-senang dengan mainan-mainannya lagi. Berbagai cara dilakukan Woody dan teman-teman, tapi tidak berhasil membuat Andy kembali bermain dengan mereka.

Mereka semua lalu dibawa ke sebuah play group. Ternyata, tempat itu sangat menyenangkan. Selalu ada anak-anak yang bisa bermain dengan mereka. Namun tanpa mereka sangka, kehidupan di sana tidak seindah yang mereka kira. Selain itu, ada juga bahaya yang mengancam....

Bullseye dan Jessie di Toy Story 3 Toy Story 3 (sumber: IMDb)

Film ini ya tetap film keluarga. Banyak terdapat lelucon yang menyegarkan dan berbagai hal menarik yang membuat anak-anak suka. Namun, tema perpisahan ini tetap diceritakan dengan sungguh-sungguh hingga semua penonton pasti ikut tersentuh olehnya.

Spoiler warning! Menurut saya sendiri, yang menyebabkan film ini sampai membuat menangis adalah adegan akhir-akhir saat Andy berpisah dengan ibunya. Perpisahan dengan anggota keluarga tetap menyedihkan, sekalipun adegan itu tidak terlalu terkait dengan cerita film secara keseluruhan. Adegan itu juga cukup banyak memperlihatkan kesedihan sang ibu saat ia harus merelakan sang anak untuk tidak lagi tinggal satu rumah dengannya. Adegan itu seperti pengantar untuk adegan sedih utama, adegan perpisahan Andy dengan Woody, Buzz dan teman-teman. Jadi, adegan ini telah dipersiapkan dengan rapi. Mulai dari film prequel hingga adegan Andy dan ibunya. Pantaslah jika adegan ini terasa sangat menyentuh, sedih, dan membuat ingin menangis.

Daftar Harapan

Okey, 'Daftar Harapan' adalah sebutan saya untuk 'Honorable Mentions', karena saya bingung juga mengartikannya ke bahasa Indonesia. Bagian ini saya buat tidak benar-benar untuk dibaca. Terdapat spoiler di sini, juga apa yang saya sebutkan sebenarnya tidak terlalu penting jika dibandingkan dengan apa yang telah saya tuliskan di atas. Saya hanya merasa bahwa kurang lengkap rasanya kalau hal-hal ini tidak dicantumkan dalam tulisan, karena itu saya buat bagian khusus di akhir.

Baiklah, Jojo Rabbit (2019) adalah film lain yang membuat saya menangis, tapi saya putuskan untuk tidak memasukkannya ke daftar. Alasannya, film ini terasa sedih bagi saya karena mengingatkan saya pada kesedihan saya sendiri. Spoiler, ada sebuah adegan saat tokoh utama, Jojo, melihat kaki sang ibu melayang di sampingnya, pertanda bahwa ia telah digantung dan meninggal. Saya jadi teringat saat kehilangan ibu saya, jadi ya saya menangis.

Namun istimewanya, film ini tidak tenggelam dalam tangis dan kesedihan. Setelah menerima kenyataan itu, Jojo lalu menjalani hidupnya seperti biasa. Perang masih berlanjut, ia pun menyesuaikan diri dan mulai mencari cara untuk bertahan hidup. Beberapa adegan bahkan masih saja lucu dengan dark humor-nya. Jadi, daripada murung dan bermuram durja, saya malah lebih tenang dan jadi bersemangat setelah menonton film ini.

Selain film-film yang saya sebutkan di atas, sebenarnya ada film-film lain yang membuat saya menangis, misalnya Satu Jam Saja (Vino G. Bastian, Revalina S. Temat, Andhika Pratama, tahun 2010) dan Habibie & Ainun (Reza Rahadian, BCL, tahun 2012). Namun, film-film ini tidak saya masukkan dalam daftar sebab menurut saya mereka sebenarnya tidak terlalu sedih. Alasan saya menangis sebenarnya karena saya saat itu memang ingin menangis saja. Mengapa saya ingin menangis? Bisa karena saya ingin menghargai filmnya, atau bisa juga karena kebetulan saya sedang memikirkan suatu masalah yang sangat menyebalkan.

Penutup

"Film-film lawas semua ya? Tahunnya itu-itu terus lagi!" Ya biarin! Daftar saya yang buat ini, ya terserah saya. Bercanda-bercanda, hehehe. Ya namanya juga sudah nggak update. Walau begitu, film-film yang saya sebut di atas tetap film bagus kok. Serta yang paling penting, film-film di atas benar-benar film sedih. Jadi, bagaimana menurut kalian? Apakah kalian juga tipe orang yang menangis saat menonton film sedih? Jika iya, film-film apa yang membuat kalian menangis? Beri saya info biar bisa lebih update. Biar relevan, kayak istilahnya para zoomer.

Okey itu dulu saja yang ingin saya sampaikan. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Mohon maaf jika ada salah-salah kata, salah tulis, dan kesalahan-kesalahan lain. Khususnya, jika ada detail-detail film yang salah. Film-film tersebut tidak bisa dikatakan film baru, dan saya juga menontonnya sudah bertahun-tahun yang lalu. Jadi mungkin sekali saya lupa.

Akhir kata, sampai jumpa lagi! Bye bye!

Komentar

Ingin berkomentar?
ridhaaaaaa2 tahun yang lalu
Aku hbs nonton Manchester by the Sea, sama A Man Called Ove, film lama juga, sedih banget woe wkwk. Sebenernya bukan tipe film yg dramatis bgt, even scene nangisnya aja ga ada apa ya. Tapi buat orang2 yg paham dan tau rasanya, sedih banget nyesek. Coba tonton ndraa..
indra 2 tahun yang lalu
sorry guys baru reply, awalnya pingin buat fitur komen admin dulu tapi belum kesampean. iya Ridh, Manchester by the Sea udah pingin nonton dari kuliah, tapi belum hehehehe. A Man Called Ove baru tahu ini, boleh lah boleh besok-besok