Pernah tidak sih kalian suka sekali sama film yang baru saja kalian tonton tapi teman-teman kalian tidak? Atau pernah tidak rekomendasi film ke saudara atau teman tapi habis nonton mereka tidak suka? Kalau saya sering. Rasanya kadang kecewa, tapi mau bagaimana lagi?
Jadi karena sekarang ini saya lebih memilih film tanpa mendengar kata orang, saya jadi punya kumpulan film yang tidak untuk semua orang. Saya ingin berbagi ke kalian, semenjak saya ingin mengajak kalian untuk lebih mendengarkan kata hati kalian sendiri. Apa hubungannya kata hati sama film? Ya, besok-besok kita akan bahas. Intinya sekarang, mungkin saja ada dari film-film ini yang kalian juga suka.
1. Little Miss Sunshine (2006)
Film ini adalah film paling favorit saya. Sebenarnya film ini bukan film jelek lho! Film ini tergolong film Oscar. Film ini memenangkan kategori Naskah Original Terbaik dan Penampilan Terbaik Aktor dalam Peran Pembantu (Alan Arkin) pada tahun 2007. Selain itu film ini juga nominasi Best Motion Picture dan Penampilan Terbaik Aktris dalam Peran Pembantu (Abigail Breslin yang masih kecil, lucu, dan imut). Terlepas dari masalah itu, film ini benar-benar menghibur.
Little Miss Sunshine (sumber: IMDb)
Mengapa sulit direkomendasian? Karena susana dalam film ini adalah dark humor atau dark comedy. Dari satu sisi, jenis ini jadi daya tarik. Awal kita lihat poster dan sinopsis, kita akan berasumsi bahwa ini adalah film keluarga. Ada sebuah keluarga dengan orang tua, dua anak lengkap dengan kakek dan paman. Mereka melakukan sebuah perjalanan untuk mengantar si bungsu mengikuti kontes kecantikan cilik. Namun, bahkan di adegan-adegan awal, sudah terlihat beberapa candaan yang 'tidak aman'. Akan lebih seru kalau nonton sendiri, jadi saya tidak berbagi di sini. Garis besarnya, jokes tersebut mengenai permasalahan manusia yang kurang umum.
Nah, di sisi lain, tentu gaya komedi gelap tidak akan masuk untuk beberapa kalangan. Mereka mungkin merasa jijik atau tersinggung. Mungkin juga mereka merasa risih dan tidak nyaman. Kok masalah seperti ini dibercandakan? Apa lucunya sih, malah aneh deh? Ya kira-kira seperti itulah.
Akhirnya jika kalian ingin coba nonton, saya sarankan untuk jangan dibawa serius. Jika kalian terhibur ya syukur, jika tidak ya lupakan dan beralih ke film yang lain.
2. The Great Gatsby (2013)
Saya pernah merekomendasikan film ini kepada kakak perempuan saya, dan ia tidak suka. Padahal, saya suka sekali dengan film ini (di masa itu).
Memang bisa dibilang kesan saya tentang film ini sangat subjektif. Mengapa begitu? Karena ada Leonardo DiCaprio, Tobey Maguire, Carey Mulligan, dan Elizabeth Debicki. Mereka orang-orang yang good looking sehingga nyaman di mata, hehehe.
The Great Gatsby (sumber: IMDb)
Beralih dari masalah actors, cerita dalam film ini sebenarnya berasal dari novel yang menjadi standar literatur pendidikan di Amerika.
Cerita klise tapi dibalut dengan nuansa modern, mungkin itu yang jadi ciri yang ditonjolkan di film ini. Mungkin karena perpaduan dua hal itu malah aneh kali ya, jadi orang-orang kurang suka? Atau bisa juga cerita yang terlalu standar? Saya akui itu semua benar. Namun saya sendiri suka dengan jenis-jenis cerita seperti itu (setidaknya di kala saya menonton film ini dulu), jadi film ini terasa menyentuh bagi saya.
Kalau kalian bagaimana? Apakah menurut kalian film ini layak direkomendasikan? Atau kalian yang belum nonton jadi berencara ingin nonton?
3. Hello Ghost (2010)
Film ini bisa dibilang film bagus. Kalimat tadi saya buat dengan seobjektif mungkin. Kalau tidak salah bahkan film ini diremake di Indonesia?
Saya sendiri menonton film asal Korea ini dengan kaset DVD bersama keluarga. Waktu itu yang membawa adalah tante saya. Saat selesai, hampir semua merasa kagum dengan film ini. Jadi kalau memang film bagus, mengapa sulit direkomendasikan?
Hello Ghost (sumber: IMDb)
Sulit bukan berarti tidak rekomen. Yang saya maksud di sini adalah cara rekomendasinya. Spoiler allert, film ini punya kekuatan di plot ceritanya. Plot itu sangat tidak terduga sehingga tidak bisa dibicarakan. Kalau tahu, ya jadi tidak seru. Saya pernah mencoba merekomendasikan film ini ke teman sekost saya sewaktu SMA. Saat itu saya bilang film ini lucu. Sulit sih meyakinkannya untuk nonton, tapi akhirnya ia nonton. Dan saya tidak terkejut kalau dia bilang film ini tidak lucu, atau lebih tepatnya kurang. Namun ia tetap bilang film ini bagus kok.
Seandainya orang tidak harus kepo sebelum nonton, pasti cara rekomendasi film seperti ini akan lebih mudah.
4. Million Dollar Baby (2004)
Tidak jauh beda dari Hello Ghost, film yang satu ini juga punya kekuatan terbesar di plot twistnya. Apakah film ini juga film bagus? Jelas! Film ini adalah pemenang Oscar 2005 di kategori utama, apalagi kalau bukan Best Motion Picture of the Year. Selain Best Picture, film ini juga memenangi Oscar di beberapa kategori lain, yaitu Penampilan Terbaik Aktris dalam Peran Utama (Hilary Swank), Penampilan Terbaik Aktor dalam Peran Pembantu (si raja peran pembantu Morgan Freeman), dan Sutradara Terbaik (Clint Eastwood yang juga nominasi untuk peran utamanya).
Namun, selain masalah plot, ada juga yang menyebabkan film ini sulit untuk direkomendasikan. Inti ceritanya sangat dark. Bukan yang komedi, kali ini dark yang membuat trauma. Surem dah pokoknya! Mungkin saya sedikit berlebihan, tapi saya perlu menekankan masalah ini sejelas mungkin. Jadi, untuk rekomen memang perlu hati-hati.
Million Dollar Baby (sumber: IMDb)
Mengapa saya suka film ini? Mungkin karena saya menontonnya baru belakangan ini saat usia saya sudah banyak (bukan tua ya hehehe). Kalau pas remaja saya rasa saya tidak akan terlalu suka. Film ini terasa indah saja menurut saya. Saat hidup ini sudah terasa sulitnya, film ini seperti mengingatkan kembali bahwa kehidupan itu harus dimaknai dan dipandang dengan bijak.
Ya sekali lagi, jangan terlalu serius kalau menonton film, karena ya... hanya film.
Jadi bagaimana, kalian jadi penasaran?
5. Jojo Rabbit (2019)
Okey kali ini film yang sulit direkomendasikan murni karena elemen-elemen ceritanya. Jojo Rabbit adalah film yang bercerita dari sudut pandang seorang bocah Jerman di kala Perang Dunia Kedua. Seperti teman-temannya, ia bercita-cita menjadi seorang Nazi. Ia ingin menjadi pahlawan dan teman baik Hitler. Bicara tentang Hitler, sang kharakter utama ini punya Hitler imajinasi sebagai temannya sepanjang film. Semua berjalan sebagaimana mestinya sampai ia bertemu dengan gadis Yahudi yang disembunyikan ibunya di loteng.
Jojo Rabbit (sumber: IMDb)
Terlihat 'kan kalau film ini bukan untuk semua orang? Masalah WWII bukan persoalan yang ringan, ditambah lagi menyinggung Nazi dan Hitler. Agama juga barang sensitif, setidaknya di negara ini, jadi sulit juga kalau salah satu tokoh utamanya adalah seorang Yahudi. Ditambah lagi film ini bernarasi dengan komedi.
Ya ya ya, maaf-maaf. Memang benar adanya kalau ada lagi film komedi di daftar ini. Dan lagi-lagi, dark comedy atau black comedy.
Namun overall film ini bagus kok. Film ini memenangkan Oscar di kategori Naskah Adaptasi Terbaik di tahun 2020. Selain itu, film ini juga nominasi kategori paling bergengsi Best Motion Picture ditambah nominasi Penampilan Terbaik Aktris dalam Peran Pembantu (Scarlett Johansson, iya bener, yang main Black Widow). Film ini membuat kita bisa melihat perang dari sisi yang berbeda. Kalau saya sendiri ada satu hal tambahan yang membuat saya suka, yaitu kharakter ibu sang tokoh utama. Kharakter itu ditampilkan sangat baik, penyayang, tapi masih penuh kewibawaan. Entah mengapa rasanya saya sangat terkesan. Sepertinya saya tidak pernah melihat orang seperti itu di kehidupan nyata. Ditambah yang memerankan adalah Scarlet Johanson, hehehe. Oh, iya ada satu lagi. Bicara pemain, saya kagum sama yang memerankan si gadis Yahudi, Thomasin McKenzie. Cantik dan keren aktingnya. Lha si pemeran utama? Bagus juga kok! Roman Griffin Davis yang masih sangat bocah mampu memperlihatkan seorang anak yang penuh semangat tetapi innocent di tengah-tengah gejolak perang.
Saya sendiri pernah membicarakan film ini dengan teman saya, tapi katanya film ini tidak terlalu berkesan. Well, bagaimana dengan kalian?
6. Constantine (2005)
Saya tidak tahu film ini bagus atau tidak, karena itulah saya tidak terlalu yakin untuk merekomendasikan film ini pada siapapun. Kalau dari kritikan, sisi negatif paling kentara dari film ini adalah ceritanya yang tidak terlalu sesuai dengan sumbernya, yaitu komik Constantine dari DC. Sosok John Constantine-nya pun juga berubah. Dalam film, sang demonologist terlihat lebih gelap dan angker. Ya, saya sendiri tidak tahu karena tidak pernah baca komiknya.
Constantine (sumber: IMDb)
Selain masalah kritikan, film ini juga punya tema yang tidak terlalu populer. Kalau tidak salah, genre utamanya adalah horror action. Jadi serem-serem tapi nanti ada berkelahinya. Biasanya sih orang yang saya kenal sukanya film horor saja atau action saja. Yang suka horor ya kalau bisa seserem mungkin, yang suka action ya seseru mungkin. Nah, film ini jadi nanggung.
Namun, saya suka film ini. Selain karena Keanu Reeves, ada juga Rachel Weisz. Hehehe bercanda. Di luar aktor dan aktris, saya suka dengan dunianya. Tidak hanya sekedar masalah malaikat dan iblis, protagonis dan antagonis, baik dan jahat, tapi juga berbagai elemen yang melebar yang membuatnya variatif. Saya sangat terinspirasi dengan kelompok demonologist yang dipimpin oleh Midnite (Djimon Hounsou), atau bukan ya? Ya pokoknya seperti itulah, ceritanya agak rumit menurut saya.
Jadi apakah kalian akan atau sudah menonton film ini? Apakah itu karena Keanu Reeves?
7. 5 Centimeters per Second (2007)
Kalian tahu Your Name? Kalau tahu, kalian pasti sadar bahwa Your Name adalah salah satu film anime terlaris di Jepang bahkan di dunia. Nah, sebelum Makoto Shinkai terkenal dengan film ini, ia terlebih dahulu meluncurkan sebuah film dengan judul 5 Centimeters per Second.
Saya suka film ini karena desain grafis yang memukau. Gambar-gambar terlihat tajam dan kontras, dengan detail yang memanjakan mata. Jujur saja saya sendiri lebih suka desain-desain seperti ini kalau dibandingkan Studio Ghibli. Bukan berarti apa-apa, hanya masalah selera saja.
5 Centimeters per Second (sumber: IMDb)
Ceritanya sendiri sebenanrnya lumayan menyentuh. Berkisah tentang seorang laki-laki dan seorang perempuan yang menjalin hubungan (tidak pernah ada ketegasan status selama runtime film) yang terpisah karena salah satunya harus pindah sekolah ke tempat yang jauh. Mereka lalu berjuang untuk mempertahankan apa yang ada di antara mereka melawan jarak dan waktu, hingga akhirnya sedikit demi sedikit....
Mengapa sulit direkomendasikan? Lebih karena ada satu bagian cerita yang rasanya terlalu 'patah'. Filmnya Makoto Shinkai itu juga ada sebenarnya yang seperti ini, yang film pendek juga ada. Namun, film ini yang rasanya paling terasa 'patahnya'. Selain itu, kalau misal dibandingkan dengan Your Name maka film ini terasa terlalu suram. Terasa sedih di sepanjang film.
Lumayan sih filmnya, lebih masalah selera dan subjektivitas saja. Kalau relate ya bakal ngena, kalau ngga ya lewat aja.
Penutup
Terima kasih sudah mampir, semoga tulisan ini bisa menambah referensi, dan sampai jumpa lagi di tulisan-tulisan yang lain!