Saya suka dunia tulis-menulis. Saya sudah menyukainya kira-kira saat saya SMP. Saat itu saya suka menulis cerita-cerita pendek yang sayangnya tidak pernah saya selesaikan. Kemudian saat saya semakin besar, sewaktu SMA lalu kuliah, saya masih mempertahankan sifat buruk saya itu: sering tidak menyelesaikan tulisan. Saya sadar sekarang bahwa dalam dunia menulis, ada ketakutan yang saya rasakan.
Karena itu, kali ini saya ingin menuangkan kegelisahan saya dalam bentuk tulisan. Harapannya, saya bisa merasa lebih baik. Bagaimanapun, saya tidak terlalu yakin sebenarnya. Tetap, mencoba lebih baik dari pada tidak. Akhirnya, anggap saja tulisan ini seperti saya sedang curhat saja.
Cerita, Awal Segalanya
Saya suka cerita. Tidak semua cerita saya suka, ada beberapa jenis cerita juga yang saya kurang suka bahkan benci. Namun secara umum, saya suka banyak jenis cerita. Karena itu, saya suka banyak hal yang memiliki unsur cerita di dalamnya.
Saat saya kecil, saya suka dengan kartun dan anime yang ditayangkan di TV. Saat itu ada banyak sekali acara yang saya sering tonton. Mulai dari kartun barat seperti Justice Leage Animated Series; lalu acara anak-anak seperti Spongebob Squarepants, Danny Phantom, dan lain-lain; juga anime Jepang seperti Naruto, One Piece, Bleach, dan banyak lagi lainnya yang biasanya ditayangkan hari Minggu. Terkhusus anime, ada banyak anime yang masih ada dan akhirnya tamat saat saya dewasa. Namun ada satu anime yang saya ingin ikuti lagi, yaitu Detective Conan.
Anime inilah yang membuat saya tertarik dengan dunia kriminal dalam cerita fiksi. Dari Conan ini saya (dan mungkin banyak orang lainnya) jadi tahu tentang Sherlock Holmes. Dia adalah tokoh fiktif yang paling ikonis. Jika berbicara tentang detektif, yang pertama kali muncul dalam pikiran pasti Mr. Holmes ini. Karena itu, kesukaan saya dengan Detective Conan membawa saya tertarik dengan novel detektif. Awalnya Sherlock Holmes, lalu saya beralih ke Agatha Christie. Semakin lama, saya jadi lebih suka novel dibandingkan sebelumnya. Sekarang, saya suka berbagai macam jenis novel. Beruntung, saya punya banyak kesempatan untuk bisa membaca novel. Bisa dari beli, pinjam dari keluarga atau teman (yang kebetulan juga suka novel), atau baca dari media digital seperti iPusnas dan Libby. Namun, tetap saja harus saya katakan bahwa saya masih lebih banyak menikmati cerita dalam bentuk tontonan.
Selain kartun dan anime, sejak kecil saya suka menonton film. Mungkin ini adalah sifat turunan dari almarhum ayah saya. Beliau sejak muda juga suka nonton film. Pernah saya diceritakan bahwa saat sekolah di Yogyakarta, ayah saya pasti meluangkan waktu dan uang untuk menonton film di bioskop. Waktu itu film-film India yang biasa tayang. Kalau saya sendiri, saya mulai menonton film dari TV. Memang saya ini korban TV (tapi saya rasa semua orang lahir sembilan puluhan pasti korban TV juga pada akhirnya). Saat kecil, saya (dan kalian yang seumuran dengan saya) pastilah menonton film dari Bioskop TransTV dan Global TV. Kedua saluran ini punya jadwal penayangan film yang pasti. Biasanya malam mulai jam delapan atau sembilan. Kalau ada hari libur, maka film-film keluarga diputar siang hari. Selain Trans dan Global, saluran TV lain juga kadang-kadang menayangkan film. Yang paling sering adalah RCTI. Kalau RCTI, biasanya hampir tengah malam sekitar jam sebelas. Bisa juga mulai jam satu dini hari. Film di RCTI biasanya lebih populer. Mungkin karena lebih jarang menayangkan film jadi mereka bisa lebih memilih. Selain tengah malam, kalau liburan mereka juga menayangkan film keluarga sebagaimana Trans dan Global. Yang paling diingat manusia penonton TV pasti Home Alone. Film wajib RCTI kalau Natal dan tahun baru.
Kesukaan saya dengan cerita ini membuat saya sering berimajinasi. Sejak kecil saya suka membayangkan diri saya sebagai tokoh fiksi dalam dunia fiktif. Namun, kalau sekarang saya pikir-pikir lagi, imajinasi saya sedikit berbeda dibandingkan dengan anak-anak lain. Kalau anak-anak lain berimajinasi menjadi Naruto, Power Rangers, atau Superman juga Batman, maka saya lebih suka menjadi orang lain di dunia lain juga. Bukan setan lho, hehehe. Maksudnya, saya suka membuat tokoh fiksi saya sendiri. Kadang-kadang di dunia acara yang saya tonton seperti Power Rangers atau Naruto. Misalnya saya jadi Power Ranger Platinum atau keturunan Uchiha dengan Sharingan 4 tomoe. Kadang-kadang, saya juga buat dunia fantasi sendiri.
Imajinasi saya yang paling saya ingat dan tidak ke mana-mana (belum pernah saya ceritakan apalagi saya coba tulis) adalah Pendekar Kabut dan Manusia Kumbang. Pendekar Kabut adalah sosok pendendam yang berperikeadilan. Saat ia remaja, ia mendapati orang-orang yang ia kenal dibunuh secara keji. Saat bertemu para penjahatnya, ia mendapat luka sayatan di kedua matanya. Luka ini membuat matanya buta tapi sekaligus membuka kekuatan terpendam dalam dirinya. Ia ternyata punya kekuatan magis yang hebat yang berwujud elemen kabut. Selain itu, ia juga bisa mengganti penglihatannya dengan kemampuan mendeteksi tenaga dalam. Dengan kekuatannya itu, saat itu juga ia akhirnya bisa membalaskan perlakuan jahat yang para penjahat itu lakukan. Ia lalu tumbuh menjadi seorang pendekar sakti dan bertemu dengan Manusia Kumbang. Orang ini juga pendekar, hanya saja ia punya kekuatan dengan jenis berbeda. Alih-alih kekuatan magis, Manusia Kumbang mendapat kekuatan dari eksperimen laboratorium. Ia diberi gen kumbang, sehingga ia bisa memanfaatkan sifat-sifat hewan ini untuk berubah menjadi manusia super. Kekuatan ototnya meningkat hingga bisa mengangkat benda berkali-kali lipat berat tubuhnya, dan ia bisa menumbuhkan exoskeleton yang bisa ia gunakan sebagai pelindung sekaligus ia bentuk sebagai senjata. Kedua pendekar ini lalu mengelana. Cerita ini terbangun dalam pikiran saya kalau tidak salah sewaktu saya masih SMP. Jadi, saya sudah memikirkan konsep tokoh fiksi yang memakai penutup mata jauh sebelum saya kenal Gojo Satoru dari Jujutsu Kaisen. Saya rasa, Klan Uchiha dalam Naruto secara alami membuat anak-anak berimajinasi tentang kekuatan bertarung yang berasal dari bola mata.
Gojo Satoru dengan Penutup Matanya (sumber: X Jujutsu Kaisen)
Selain cerita ini, saya juga punya banyak imajinasi lain. Kalau saya melihat sebuah film atau acara TV yang menarik, saya lalu buat tokoh sendiri dengan kekuatan sendiri. Imajinasi-imajinasi ini akhirnya membuat saya ingin membuat cerita fiksi saya sendiri.
Akhir SMP hingga awal masuk SMA, saya sebenarnya sudah punya ide cerita yang ingin saya kembangkan. Berpusat pada seorang anak SMP, ceritanya bermula saat ia melihat anak perempuan seumurannya tiba-tiba berjalan ke tengah jalan dan tertabrak mobil hingga tewas. Sejak itu, ia lalu melihat tanda aneh bewarna ungu di atas kepala orang-orang tertentu. Hal ini membuatnya lebih dekat ke anak ranking satu di sekolanya. Anak itu lalu menceritakan sebuah rahasia. Klan Knif, adalah garis darah yang dimulai sejak nenek moyang di Yunan. Saat itu, mereka terkenal sebagai manusia yang arogan dan egois. Mereka memanfaatkan superioritas yang mereka miliki untuk menjajah bangsa lain. Kepala suku yang sakti madraguna lalu mengutuk klan ini. Mereka diberi dua kutukan: yang pertama tanda di atas kepala yang hanya bisa dilihat oleh golongan mereka sendiri, dan yang kedua adalah kekuatan untuk bisa menggunakan pikiran untuk mengendalikan orang di luar klan mereka. Kutukan kedua ini memiliki konsekuensi kematian. Setiap mereka selesai mengendalikan orang, mereka akan langsung meninggal. Kutukan ini bersifat turun-temurun dan diperjelas dengan sebuah aturan. Jika dua orang Knif memiliki anak, maka anak itu akan menjadi Knif sepenuhnya dan punya kedua kutukan ini. Jika Knif memiliki anak dengan selain Knif, maka anak itu akan menjadi setengah Knif. Setengah Knif tidak memiliki tanda seperti Knif. Kutukan yang ia miliki juga tidak lengkap, antara ia punya penglihatan untuk melihat tanda Knif atau kemampuan untuk mengendalikan orang. Aturannya sebenarnya masih panjang, tapi karena paragraf ini sudah panjang, mungkin segitu saja kali yah.
Tanggal Kematian di Death Note yang Menjadi Salah Satu Inspirasi Cerita Knif (sumber: IMDb)
Imajinasi vs. Analisis
Bisa dikatakan, cerita adalah hal yang paling saya sukai sampai sekarang. Akan tetapi, hal ini bukan satu-satunya hal dominan yang memenuhi pikiran saya. Ada satu lagi yang biasa saya lakukan dengan pikiran saya terutama saat saya sedang sendiri. Hal tersebut adalah menganalisis.
Saya suka membuat otak saya berkelana ke mana-mana. Imajinasi dan membangun cerita jelas memperlihatkan hal tersebut. Analisis adalah sisi lain dari pikiran yang berjalan tanpa arah. Ia bisa saja membahas apa saja. Mulai dari sesuatu yang sepele seputar kehidupan sehari-hari hingga permasalahan yang rumit yang berkaitan dengan suatu ilmu pengetahuan yang dalam. Namun dari sekian banyak permasalahan yang saya temui, anlisis saya cenderung mengarah ke permasalahan psikologi.
Sebagai contoh, sejak kecil saya berpikir bahwa orang yang bisa mengendalikan psikologinya, atau bisa juga dikatakan 'mengolah jiwanya', maka ia bisa lebih hebat dibandingkan orang yang hanya mengolah tubuhnya atau orang pintar yang hanya punya pengetahuan luas. Menurut saya psikologi, mental, atau jiwa adalah pengatur utama dalam tubuh manusia. Jika hal ini bagus, maka tidak sulit membuat raga, pikiran, dan lain-lainnya jadi bagus juga. Berbeda dengan konsep memperbaiki raga atau pikiran terlebih dahulu. Dengan konsep ini, maka bisa saja seorang manusia kehilangan esensi dari apa yang sebenarnya ia hendak tuju. Mungkin orang ini merasa ia sehat dengan tubuh yang kuat, tapi mungkin juga sebenarnya kehilangan manfaat dari olah raga seperti sportivitas, kerja keras, daya juang, dan kebahagiaan.
Sumber Gambar: Michelle Leman melalui Pexel
Contoh lain, saya juga lumayan suka berpikir tentang cinta. Entah kapan saya mulai memikirkan tentang hal ini, saya rasa bahkan sejak saya SD. Kalau masa-masa remaja dulu, saya berpikir bahwa cinta itu adalah 'entitas' yang sangat kuat dan berdaya kuasa. Dalam cerita-cerita film, terlihat bahwa cinta bisa mengubah orang menjadi hebat. Cinta bisa juga membuat seorang tokoh dalam film yang lain melakukan sesuatu yang sangat berani yang bisa mengubah hidupnya dan hidup orang lain. Dalam lagu-lagu populer, cinta begitu dipuja, minimal oleh orang Indonesia. Saya sedikit lupa, tapi saya rasa saya dulu suka mencari tahu mengapa cinta itu bisa sehebat itu. Apakah itu karena berasal dari jiwa dan perasaan manusia, atau karena perasaan saling memiliki, atau karena perasaan saling mendukung, atau karena kemauan untuk saling berkorban, atau alasan lainnya.
Bagaimanapun saat saya bertambah umur, pemikiran tentang cinta itu berubah. Sekarang, saya lebih berpikir bahwa cinta itu adalah alat saja. Manusia yang memilikinya 'lah yang membuatnya menjadi hebat. Menurut saya, cinta bisa dianalogikan seperti pisau masak. Jika yang memegang pisau itu adalah juru masak ahli, maka pisau itu bisa ia gunakan untuk membuat sajian yang lezat nan nikmat. Jika yang memegangnya adalah ibu rumah tangga, maka pisau itu bisa digunakan untuk membuat sajian yang diharapkan bisa mencukupi kebutuhan (dan semoga keinginan) seisi rumah. Jika yang memegang adalah orang sembrono, maka pisau itu bukan tidak mungkin malah melukainya. Dan sama seperti cinta juga, maka untuk bisa menggunakan pisau dengan benar perlu waktu.
Sumber Gambar: Vlad Chețan melalui Pexel
Kira-kira seperti itulah pikiran-pikiran hasil analisis saya. Biasanya proses berpikir seperti ini terjadi secara impulsif dan spontan. Banyak juga hal selain cinta yang saya analisis. Kalau belakangan ini, saya lebih suka berpikir tentang kedewasaan emosional, menjadi lebih empati, dan konsep-konsep mengendalikan diri terutama pengendalian emosional.
Apa yang Saya Ingin Tulis
Saya merasa berpikir itu sia-sia tanpa ada bekasnya. Sampai sekarang cara saya berpikir adalah dengan berbicara pada diri sendiri. Setiap saya melakukannya, saya selalu merasa bersalah karena pemikiran-pemikiran saya itu menguap dan hilang.
Lalu, saya harus berbuat apa dengan imajinasi dan analisis saya itu? Dari situlah secara alami semua orang seperti saya pasti akan mengarah ke tulisan. Bisa dikatakan, tulisan adalah dokumentasi dalam bentuk yang paling sederhana. Ada beberapa opsi lain sebenarnya, misalnya membuat rekaman suara atau bahkan rekaman video sekalian. Namun saya merasa kadang malu mendengar suara saya sendiri. Selain itu saat saya mulai menulis, saya merasa bahwa tulisan itu melatih saya untuk bisa berpikir dengan lebih urut dan jelas. Saya jadi berpikir bahwa tulisan itu adalah latihan yang sangat baik untuk otak.
Selain tulisan adalah bentuk dokumentasi yang sederhana, saya juga jadi kepikiran bahwa tulisan itu adalah awal dari banyak konten dalam bentuk lain. Film dimulai dari naskah, begitu juga (seharusnya) video-video yang bagus di YouTube. Saya sendiri pernah coba-coba buat konten di YouTube dan menemukan bahwa naskah akan membuat video menjadi lebih bagus. Kemudian orang-orang yang inspiratif dalam hidup ini biasanya larinya akan menulis buku juga. Apakah karena orang-orang seperti itu biasa membaca dan membaut jurnal? Bisa jadi. Bagaimanapun, mungkin menulis itu bukan awal, tapi lebih ke bagian. Menulis merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari berbagai proses kerja manusia.
Karena itu, antara cerita-cerita hasil imajinasi dan pemikiran-pemikiran hasil analisis yang saya buat, ingin sekali saya simpan dalam bentuk tulisan.
Apa yang Saya Rasakan
Keinginan untuk menulis tersebut sudah muncul paling tidak saat saya SMA. Pada saat itu, saya ingin menulis cerita Knif yang sudah terbayang-bayang di pikiran saya. Namun sejak waktu itu hingga sekarang, saya tidak pernah selesai menulis cerita ini. Bahkan menyelesaikan dua bab saja tidak. Kendala utama yang saya rasakan adalah sedikitnya pengetahuan yang saya miliki. Padahal banyak pengetahuan yang dibutuhkan untuk membangun dunianya. Ambil contoh kantor polisi. Saya tidak tahu apa yang ada di dalam kantor polisi, padahal ada adegan saat tokoh utama berada di sana. Setelah ia tidak sadarkan diri karena berusaha menyelamatkan si gadis, ia dibawa dan diamankan ke kantor polisi. Saat sadar ia lalu ditanya-tanya mengenai kejadian tersebut. Saat saya berada di adegan itu, saya kesulitan untuk membuat cerita. Saya tidak mampu menggambarkannya. Di titik cerita itulah saya berhenti menulis tentang Knif.
Saya coba menghadapi kendala itu dengan berlatih terlebih dahulu. Jika masalahnya adalah pengetahuan, maka saya buat saja cerita fantasi di mana detailnya bisa saya buat dengan bebas. Maka dari itu, saya lalu terpikir sebuah cerita dengan latar tempat dunia multi dimensi. Pada waktu itu saya masih kuliah. Awalnya saya niatkan sebagai latihan, tapi akhirnya cerita tersebut malah berkembang dan meluas. Dan sekali lagi, saya gagal untuk menulis. Saya berakhir dengan berimajinasi dan membayangkan saja.
Bleach Memories of Nobody, Salah Satu Inspirasi Cerita Multi Dimensi (sumber: IMDb)
Hingga akhirnya tahun 2021 saat saya super menganggur, saya memutuskan untuk fokus menulis cerita tersebut. Saya mulai akhir 2021 hingga sekitar Mei 2022 saya berhasil menulis 6 bab. Namun, kembali saya berhenti menulis. Saya sudah punya bayangan dengan bab 7, tapi saya merasa banyak detail yang tidak bisa saya tentukan di sana. Saya juga merasa bahwa bayangan saya tentang bab 7 akan mempengaruhi cerita secara keseluruhan. Saya takut ada masalah kontinuitas jika saya asal menulis bab 7.
Lebih dari satu tahun kemudian, sekitar September 2023, saya kembali menemukan niat untuk menulis cerita multi dimensi. Saya mulai dengan mengubah beberapa hal di bab 6 yang menurut saya bisa menimbulkan masalah ke depannya. Kemudian, saya berusaha melawan ketakutan saya tentang masalah kontinuitas dan mulai memikirkan dengan teliti adegan apa saja yang ada di bab 7. Saya kemudian berhasil menyelesaikannya. Saat itu, saya sadar bahwa akan lebih baik jika bab 7 dipisah dan dijadikan dua bab. Kemudian, progres penulisan saya terhenti lagi. Kali ini yang saya rasakan adalah ketakutan bahwa saya tidak mampu membuat adegan yang baik, mengingat adegan di bab 9 ini adalah salah satu adegan penting menurut saya.
Dari sini terlihat bahwa niat awal saya hilang dan tujuannya menjadi kabur. Seharusnya saya hanya menggunakan cerita multi dimensi ini sebagai latihan. Namun, saya jadi jatuh cinta dengan jalan ceritanya sehingga saya terlalu takut untuk menulisnya sembarangan.
Ketakutan itu tidak hanya ada saat saya menulis cerita. Bahkan, saya belum pernah punya niat untuk menulis pemikiran-pemikiran dan analisis-analisis saya ke dalam tulisan yang lengkap. Saya memang pernah menulis ide-ide saya di status Facebook atau Line, tapi semua itu hanya tulisan singkat. Saya selalu merasa ada keraguan dalam analisis-analisis yang ada dalam otak saya.
Pertama, saya tidak yakin hasil berbagai analisis tersebut benar atau tidak. Analisis yang tiba-tiba terjadi dalam pikiran saya bisa tentang apa saja. Dalam hal ini, saya sebagai manusia biasa menyadari saya tidak tahu segala hal. Selain itu, saya juga tidak yakin punya sudut pandang dan cara berpikir yang tepat akan hal-hal yang saya analisis tersebut. Hal ini membuat saya takut jika analisis-analisis yang saya buat malah bersifat merugikan. Misalnya, kesalahan analisis saya menyesatkan orang. Bisa juga kesalahan tersebut menyinggung perasaan orang.
Yang kedua, saya merasa tidak banyak orang yang tertarik dengan bidang yang saya analisis. Yang paling utama adalah psikologi. Saya merasa psikologi ini tidak terlalu berperan dalam kehidupan sehari-hari. Minimal di antara orang-orang yang saya temui sehari-hari. Kebanyakan orang-orang ini bicara masalah yang konkret seperti politik, berita terbaru, atau sepak bola. Kalau pembicaraan sudah deep, maka topik akan mengarah ke pekerjaan, masalah keluarga, atau masalah sosial. Intinya, pada hal-hal yang pasti dan jelas ada wujudnya. Tidak banyak yang membicarakan bagaimana mengendalikan emosi, bagaimana memperbaiki kebiasaan, tentang coping mechanism, pentingnya empati dengan sesama, dan lain-lain. Saya tidak menyalahkan mereka juga sebenarnya, karena memang sebenarnya psikologi yang saya sering pikirkan itu hanya berusaha mendefinisikan masalah. Jika orang berusaha menyelesaikan masalahnya, maka seharusnya permasalahan psikologinya juga tertangani. Jadi saya menganggap bahwa konsep-konsep psikologi (termasuk yang saya analisis dan pikirkan) itu hanyalah salah satu titik untuk memulai menyelesaikan suatu masalah. Pada akhirnya, mungkin saja orang-orang tidak perlu sadar tentang psikologi mereka.
Apa yang Saya Lakukan Sekarang
Demikianlah, saya merasa banyak ketakutan-ketakutan saat saya menulis. Saya menduga bahwa itu semua karena saya orang yang tidak percaya diri. Saya takut bahwa saya tidak cukup mampu untuk menyelesaikan suatu cerita yang utuh. Saya juga takut untuk bertanggung jawab terhadap pemikiran-pemikiran dan opini-opini saya.
Karena itu, saya membuat tulisan ini. Tulisan ini (semoga) adalah semua isi hati saya yang memberatkan saya selama ini. Saya berharap dengan menuliskannya, saya bisa memandang berbagai masalah tersebut dari sudut pandang di luar diri saya, sudut pandang baru yang membuat saya bisa menemukan solusi yang saya perlukan. Semoga saja....
Sekarang ini saya berusaha memperbanyak menulis. Blog ini yang paling banyak saya tulis belakangan ini. Saya berusaha untuk meringankan beban pikiran saya saat saya menulis di sini. Topik-topiknya saya pilih yang ringan dan tidak sensitif seperti film dan novel. Minimal dengan topik tersebut, saya juga sekalian belajar tentang bagaimana membuat cerita yang bagus. Saya juga berusaha untuk tidak terlalu memikirkan kualitas. Di sini, yang penting adalah tidak menyinggung perasaan orang. Kadang saya juga menulis tentang peristiwa yang saya alami. Misalnya perjalanan saya belajar programming. Sedikit demi sedikit, saya juga berharap bisa menulis analisis-analisis dan pemikiran-pemikiran saya di sini. Saya akan mulai dari yang topiknya umum sehingga bisa lebih mudah diterima orang-orang.
Saya juga berharap saya bisa menyelesaikan minimal satu novel multi dimensi. Memang harus saya akui menulis novel itu tidak semudah yang dulu saya pikirkan, tapi saya masih berharap untuk bisa menyelesaikannya. Saya berpikir jika saya bisa menyelesaikan satu saja, maka itu akan jadi pencapaian teramat besar bagi saya. Yang jelas, berbagai imajinasi cerita di otak saya tidak pernah berhenti berjalan. Saya hanya tidak ingin semua itu sia-sia.
Penutup
Huh...! Tulisan yang panjang juga ya! Semoga ada dari kalian yang membaca dari awal sampai akhir. Bagi yang melakukannya, saya ucapkan banyak-banyak terima kasih.
Baiklah seperti biasa, semoga tulisan ini ada manfaatnya ya, bagi kalian dan bagi saya. Mohon maaf juga jika ada salah kata, tulisan, serta salah-salah yang lain. Di sinilah, saya berusaha hati-hati untuk tidak menyakiti perasaan orang, salah satunya menutup tulisan dengan permohonan maaf. Dan tentunya jika ada salah-salah, silakan tinggalkan pesan, bisa di komen atau langsung japri ke saya.
Akhirnya, sampai jumpa lagi di tulisan selanjutanya!
Sumber Lain
Gambar Fitur ('The' Spongebob) dari Spongebob Fandom