Well well well! Akhirnya saya membuat tulisan tentang buku juga, hehehe. Namun sebelumnya sedikit peringatan, saya mungkin tidak bisa menyebut tulisan ini sebagai resensi. Tulisan ini hanya membahas bebas dan fun saja, apa yang menurut perasaan saya ingin saya bagi ke pembaca sekalian.
Bagi yang mencari penilain buku ini (apakah rekomen atau tidak) maka saya akan tuliskan di awal. Buku karya Keigo Higashino ini saya suka, dan saya akan rekomen ke hampir semua orang yang suka membaca buku fiksi. Cerita dalam buku ini terasa punya banyak sisi menarik yang bisa membuat pembaca merasa terhibur. Begitu juga dengan pesan-pesan moral yang ada di dalamnya yang terasa cukup relate. Akhirnya saya ingin bilang bahwa cerita di novel ini wholesome, membuat hati senang.
Sebenarnya waktu saya membaca buku dan waktu saya menulis pembahasan ini terpaut cukup jauh, hitungan bulan. Jadi semoga ingatan saya benar dan tulisan ini tidak sesat, hehehe. Jika ada salah-salah, mohon ralatnya ya.
Okey, kita bahas saja lebih lanjut.
Mengapa Saya Tertarik Membaca Buku Ini
Awal saya bisa tahu buku ini adalah dari merunut pengarangnya. Awal saya tahu pengarangnya, adalah dari buku lain yang pernah saya baca. Buku tersebut adalah Pembunuhan di Nihonbashi atau judul lainnya The Newcomer. Awal saya tahu buku tersebut adalah dari window shopping di internet cari-cari buku yang sedang terkenal atau dibeli banyak orang.
Bagaimana Saya Bisa Membaca Buku Ini
Mungkin ini akan jadi bagian yang biasa saya sertakan dalam pembahasan buku. Cara bisa berkesempatan membaca suatu buku merupakan hal menarik bagi saya karena ada seninya. Kali ini, seninya adalah keberuntungan.
Buku ini dapat dipinjam secara gratis di iPusnas. Bagi yang belum tahu, iPusnas adalah aplikasi Perpustakaan Digital Nasional yang memungkinkan orang-orang untuk bisa meminjam dan membaca buku secara mudah lewat perangkat Android atau iOS. Nah tapi, jumlah copy buku ini di iPusnas sepertinya hanya sedikit, karena biasanya saat saya buka detail buku, buku ini tidak bisa dipinjam dan harus ikut queue dulu. Akhirnya pada suatu malam, saya iseng buka, dan tersedia satu copy, saya langsung saja pinjam.
Screenshot dari aplikasi iPusnas yang menampilkan Keajaiban Toko Kelontong Namiya
Proses membaca pun harus penuh dengan tekanan. Karena pinjam di iPusnas, maka waktu baca terbatas, 5 atau 6 hari kalau tidak salah. Karena itu, kalau kalian kenal saya, kalian pasti tidak akan kaget kalau saya bilang saya akhirnya harus baca lebih dari seratus halaman di sore dan malam di hari terakhir peminjaman buku.
Well pesannya adalah, baca buku itu tidak harus mahal kawan-kawan. Kadang hanya butuh usaha dan/atau keberuntungan.
Sebuah Cerita Realistis yang Terhubung dengan Garis Fantasi
Kembali lagi ke novel Toko Kelontong Namiya. Sebenarnya novel ini tentang apa sih?
Gambar hanya ilustrasi (sangat tidak akurat). Dibuat oleh: Fooocus
Jadi, cerita dimulai dengan menghadirkan tiga orang kriminal yang sedang dalam pelarian mereka. Ketiga orang ini kena sial karena mobil mereka mogok dan harus mencari tempat persembunyian sambil menunggu malam berakhir. Saat itulah mereka memutuskan untuk bermalam di sebuah ruko yang kosong dan sudah ditinggalkan pemiliknya selama bertahun-tahun.
Toko Kelontong Namiya, begitulah nama toko di ruko tersebut, terlihat dari plakat depan toko dan koran bekas yang berisi berita tentang toko tersebut yang mereka temukan di dalam sisi rumah. Dari koran itu, mereka jadi tahu bahwa toko tersebut cukup terkenal pada masanya karena memberikan jasa konsultasi permasalahan hidup.
Jasa konsultasi itu sendiri unik. Si penanya hanya perlu memasukkan surat ke lubang pintu gulung depan toko dan esok harinya jawaban akan ada di kotak susu belakang rumah.
Namun siapa sangka, ketiga kriminal ini mendapat surat pemintaan konsultasi di tengah kunjungan mereka. Lebih aneh lagi, surat itu berasal dari masa lalu.
Cerita kemudian berlanjut dengan mereka menjawab surat-surat yang datang. Setiap bab beda penanya dan persoalan. Lalu, cerita juga pada akhirnya akan masuk ke sudut pandang pemilik sang Namiya sendiri.
Apa yang Saya Suka dari Novel Ini
Poin menarik yang langsung saya rasakan adalah di setiap bab langsung ada penyelesaian. Mirip dengan Pembunuhan di Nihonbashi, rasanya saya bisa mendapat kepuasan dengan menyelesaikan satu bab saja. Mirip juga sebenarnya dengan kumpulan cerpen, tapi ada perbedaan yang merupakan poin menarik selanjutnya.
Poin tersebut adalah, walaupun permasalahan setiap bab akan selesai di bab itu juga, tapi selalu ada keterkaitan. Ada benang merahnya begitu. Hal ini membuat ceritanya menjadi lebih menyenangkan. Jadi terlihat juga niat penulisnya saat proses menyusun cerita.
Poin lain yang saya suka dari novel ini adalah ceritanya lumayan relate dengan permasalahan kehidupan yang sering kita temui. Soal asmara versus cita-cita, soal cita-cita versus harapan keluarga, soal polemik di keluarga itu sendiri, dan lain-lain. Bagi saya, permasalahan-permasalahan itu diceritakan di taraf yang bisa diterima, tidak terlalu pelik yang membuat frustrasi, tapi juga masih terasa suasana seriusnya. Mungkin ini subjektif ya, jadi bisa saja berbeda-beda bagi masing-masing dari kita.
Poin berikutnya yang saya suka adalah realistis. Hal ini juga jadi alasan mengapa ceritanya berada di taraf yang bisa diterima. Menurut saya, komponen-komponen ceritanya lumayan masuk akal di pikiran dan perasaan saya. Dari setup seperti ini maka akan jadi masalah seperti itu. Lalu penyelesaiannya juga harusnya seperti ini, tidak terkesan dibuat-buat atau dicari-cari, hingga akhir cerita yang membuat saya merasa puas. Karena 'kan kita tentu pernah menemukan cerita yang punya bagian cerita yang terkesan terlalu dipaksakan untuk membuat cerita berjalan sesuai harapan. Semacam plot armor begitu. Nah, novel ini saya rasa tidak ada yang seperti itu. Kalaupun ada, itupun tidak terlalu mamaksa.
Apa yang Saya Tidak Suka
Baik, kita akan masuk ke hal-hal yang tidak saya suka dari novel Keajaiban Toko Kelontong Namiya.
Poin pertama adalah kontinuitas yang terkesan dipaksakan. Lah, bukannya tadi ceritanya itu tidak memaksakan? Iya benar, dari sisi komponen cerita, alurnya tidak terasa dipaksakan. Namun yang saya ingin sampaikan di sini terkait masalah 'benang merah' yang menghubungkan satu cerita dengan cerita yang lain. Saya merasa ada ketidak konsistensian dalam pace cerita. Ada cerita yang terasa berjalan lambat, tapi ada juga yang berjalan sangat cepat. Saya bisa memahami sebenarnya. Hal ini karena ceritanya harus bisa menghubungkan dua latar waktu yang berbeda. Sekalipun bisa dimaklumi, saya merasa ini tetap sebuah kekurangan.
Poin selanjutnya sangat subjektif, yaitu saya merasa buku ini kurang panjang hehehe. Kurang puas saja begitu. Seandainya lebih banyak cerita di sana, maka pasti lebih puas. Menambah panjang cerita mungkin juga bisa mengurangi masalah konsistensi pace yang saya sebut sebelumnya, tapi hey, itu hanya pendapat saya saja.
Poin terakhir mungkin bukan hal yang mutlak saya tidak suka atau mutlak kekurangan dari buku ini. Poin ini seperti sifat dari cerita yang bisa terasa jelek atau bagus tergantung dari pembacanya. Saya merasa lebih condong ke arah tidak suka, walau sedikit. Poin ini adalah ada beberapa cerita yang terasa dark. Hal ini mungkin karena buku ini dari Jepang yang berbeda kebudayaan dengan Indonesia. Saya merasa hal ini kurang nyaman untuk dibaca karena saat saya menbaca bagian-bagian ini, saya langsung merasa lemas karena emosi saya naik. Sekali lagi, beda-beda bagi setiap pembaca.
Keajaiban Toko Kelontong Namiya. Sumber: Gramedia
Penutup
Okey, sampai kita di akhir tulisan. Kesimpulannya, buku ini adalah buku yang sangat bisa dijadikan teman untuk mengisi waktu luang bagi kaum introvert dan ansos yang ada di luar sana yang menghindar dari berinteraksi dengan sesama. Atau untuk para weebo Indonesia biar literisi mereka tidak cuma manga isekai? Hehehe, bercanda. Novel ini recommended kok untuk semua orang. Jadi, apakah kalian tertarik untuk membacanya? Atau kalian sudah baca, dan ada di antara tulisan ini yang kalian setuju/tidak setuju? Atau mungkin ada hal lain yang ingin disampaikan? Kolom komentar selalu tersedia untuk siapa saja.
Terima kasih atas kunjungan teman-teman, mohon maaf atas kekurangan/kesalahan. Semoga kita semua sehat dan sukses, sampai jumpa di tulisan lainnya!